Bandung, yang terletak di dataran tinggi dengan suhu udara yang cenderung sejuk, memberikan kondisi lingkungan yang unik bagi para pelari dan perenang. Namun, udara dingin dan tipis di dataran tinggi juga membawa tantangan tersendiri bagi sistem pernapasan manusia. Untuk memaksimalkan kapasitas aerobik para atlet, metode latihan hipoksia atau latihan dengan ketersediaan oksigen yang terbatas menjadi menu wajib dalam program pelatihan. Metode ini dirancang untuk memaksa tubuh melakukan adaptasi fisiologis yang ekstrem, sehingga saat bertanding di dataran rendah, atlet akan memiliki daya tahan jantung dan paru yang jauh di atas rata-rata.
Secara fisiologis, hipoksia memicu tubuh untuk memproduksi lebih banyak hormon eritropoietin (EPO) yang merangsang pembentukan sel darah merah. Bagi seorang perenang, jumlah sel darah merah yang lebih banyak berarti kapasitas pengangkutan oksigen ke otot menjadi lebih efisien. Di lingkungan Bandung yang dingin, tantangan tambahan muncul karena udara dingin cenderung membuat saluran napas menyempit (bronkokonstriksi). Oleh karena itu, latihan pernapasan terkontrol di dalam air dingin memerlukan pengawasan yang ketat untuk memastikan atlet mendapatkan manfaat adaptasi paru tanpa risiko cedera pada sistem respirasi.
Teknik latihan ini biasanya melibatkan pengurangan frekuensi pengambilan napas dalam satu lintasan. Misalnya, perenang diminta untuk mengambil napas setiap lima atau tujuh kayuhan, bukan setiap tiga kayuhan seperti biasanya. Hal ini menciptakan kondisi “lapar oksigen” yang melatih mental perenang untuk tetap tenang dalam kondisi stres fisik. Di dataran tinggi Bandung, latihan ini menjadi dua kali lebih efektif karena tekanan parsial oksigen di atmosfer sudah lebih rendah sejak awal. Atlet yang terbiasa berlatih dalam kondisi ini akan merasakan kemudahan yang luar biasa saat harus menempuh jarak jauh dalam sebuah perlombaan di kota pesisir.
Kondisi udara dingin juga memengaruhi metabolisme tubuh perenang. Tubuh harus membakar lebih banyak energi untuk menjaga suhu inti, sementara di saat yang sama, paru-paru harus bekerja lebih keras untuk menyuplai oksigen ke otot yang bekerja. Sinergi antara tantangan suhu dan kekurangan oksigen ini menciptakan efek latihan yang sangat komprehensif. Para pelatih di Jawa Barat telah lama memanfaatkan keunggulan geografis ini untuk menciptakan “paru-paru baja” pada atlet mereka. Namun, mereka juga sangat menekankan pentingnya hidrasi dan asupan nutrisi yang tepat karena latihan hipoksia di suhu dingin dapat sangat menguras cadangan glikogen dalam tubuh.
