Nutrisi Juara! Pola Makan Atlet PRSI Bandung Menjelang Lomba

Konsep Nutrisi Juara yang diusung bukan sekadar tentang kenyang, melainkan tentang keseimbangan makronutrisi dan mikronutrisi yang presisi. Karbohidrat kompleks menjadi primadona dalam fase persiapan ini. Atlet diarahkan untuk mengonsumsi sumber energi seperti nasi merah, gandum, atau umbi-umbian yang memberikan pelepasan energi secara perlahan. Hal ini sangat penting agar cadangan glikogen dalam otot tetap penuh, sehingga ketika perenang melakukan sprint di 50 meter terakhir, mereka tidak mengalami kelelahan otot yang mendadak atau yang sering disebut dengan istilah hitting the wall.

Pengaturan Pola Makan menjadi semakin ketat saat mendekati hari perlombaan. PRSI Bandung menekankan pentingnya asupan protein berkualitas tinggi seperti dada ayam, ikan, dan kacang-kacangan untuk membantu proses pemulihan jaringan otot yang rusak selama latihan intensif. Selain itu, asupan lemak sehat dari alpukat atau kacang almond diperlukan sebagai cadangan energi jangka panjang dan penjaga fungsi hormon. Tidak lupa, asupan serat dari sayuran hijau tetap dijaga namun dengan porsi yang terukur agar tidak menyebabkan gangguan pencernaan atau perut kembung saat sedang bertanding di dalam air.

Bagi seorang Atlet, hidrasi adalah elemen yang sering kali terlupakan namun memiliki dampak fatal jika diabaikan. Berada di dalam air sering kali menipu sensor haus tubuh, padahal perenang tetap kehilangan banyak cairan melalui keringat. Di Bandung, para pelatih dan ahli gizi memantau ketat asupan cairan para atlet, memastikan mereka mengonsumsi air mineral dan minuman elektrolit secara berkala. Dehidrasi sekecil dua persen saja sudah cukup untuk menurunkan performa fisik dan konsentrasi mental perenang, yang bisa berakibat pada selisih waktu sepersekian detik yang sangat berharga dalam sebuah lomba.

Masa-masa Menjelang Lomba atau fase tapering adalah waktu di mana metabolisme tubuh harus berada dalam kondisi puncak. Pada fase ini, konsumsi makanan olahan, gula berlebih, dan gorengan dilarang keras. Fokus dialihkan pada makanan alami yang membantu mengurangi peradangan dalam tubuh. Selain itu, waktu makan juga diatur sedemikian rupa agar sesuai dengan jadwal pertandingan. Atlet dibiasakan untuk makan besar setidaknya 3 hingga 4 jam sebelum turun ke kolam, guna memastikan proses pencernaan telah selesai dan energi siap dialirkan sepenuhnya ke otot-otot penggerak.