Bandung tidak hanya dikenal dengan udaranya yang sejuk dan pemandangan alamnya yang indah, tetapi juga sebagai medan latihan yang menantang bagi para olahragawan. Berada di dataran tinggi dengan ketinggian rata-rata di atas 700 meter dari permukaan laut, kota ini memiliki tantangan tersendiri bagi mereka yang terbiasa berlatih di wilayah pesisir. Fenomena oksigen tipis Bandung menjadi momok bagi para pendatang, terutama para perenang yang mengandalkan efisiensi pernapasan sebagai kunci performa. Sering kali ditemukan kasus di mana atlet luar daerah yang memiliki catatan waktu gemilang di daerah asal justru mengalami penurunan performa drastis atau merasa sesak napas yang luar biasa saat pertama kali mencoba lintasan kolam di Paris van Java ini.
Alasan ilmiah di balik fenomena ini berkaitan dengan tekanan barometrik. Semakin tinggi suatu lokasi, semakin rendah tekanan udara, yang berarti molekul oksigen menjadi lebih renggang. Kondisi ini memaksa jantung dan paru-paru bekerja dua kali lebih keras untuk mensuplai oksigen ke otot-otot yang sedang bekerja intensif. Bagi seorang perenang, yang secara alami memiliki akses terbatas terhadap udara saat berada di dalam air, kekurangan oksigen ini terasa sangat menyiksa. Istilah paru-paru yang seolah-olah ‘meledak’ adalah gambaran hiperbolis dari sensasi terbakar di dada akibat penumpukan asam laktat yang sangat cepat karena metabolisme anaerobik yang dipaksa bekerja lebih awal.
Proses adaptasi atau aklimatisasi menjadi faktor pembeda antara kegagalan dan kesuksesan di Bandung. Atlet yang datang tanpa persiapan matang biasanya akan mengalami kelelahan kronis hanya dalam beberapa putaran pertama. Tubuh memerlukan waktu setidaknya satu hingga dua minggu untuk meningkatkan produksi sel darah merah guna mengimbangi rendahnya kadar oksigen. Inilah mengapa Bandung sering dijadikan lokasi pemusatan latihan nasional (training camp); tujuannya adalah untuk menempa stamina atlet agar saat mereka kembali ke dataran rendah, mereka memiliki kapasitas aerobik yang jauh lebih kuat dibandingkan lawan-lawannya. Namun, bagi mereka yang hanya datang untuk kompetisi singkat tanpa adaptasi, tantangan ini bisa menjadi bencana bagi hasil akhir mereka.
