Standar kelayakan air kolam renang untuk atlet profesional tidak hanya diukur dari kejernihan secara visual, tetapi juga dari keseimbangan kimiawi yang sangat presisi. Ketidakseimbangan kadar asam dan basa dalam air dapat berdampak langsung pada kenyamanan kulit perenang hingga keawetan infrastruktur kolam itu sendiri. Menyadari pentingnya aspek teknis ini, fasilitas akuatik di Jawa Barat melakukan inovasi besar dengan menerapkan sistem kontrol pH Air Otomatis. Sistem ini dirancang untuk melakukan pembacaan kadar keasaman air secara real-time dan melakukan koreksi kimiawi secara mandiri tanpa harus menunggu pemeriksaan manual yang memakan waktu lama.
Implementasi teknologi ini merupakan hasil dari Sinergi Bandung yang melibatkan para ahli kimia lingkungan, teknisi otomasi, dan pengelola sarana olahraga daerah. Kerja sama ini bertujuan untuk menciptakan sebuah ekosistem pemeliharaan air yang cerdas dan efisien. Di masa lalu, pengukuran pH sering dilakukan secara berkala menggunakan metode titrasi manual atau kertas indikator yang rentan terhadap kesalahan manusia (human error). Namun, dengan adanya sinergi antar-disiplin ilmu ini, dipasanglah sensor digital yang terhubung langsung dengan pompa dosis kimia, sehingga fluktuasi kualitas air dapat diredam secara instan sebelum mencapai ambang batas yang membahayakan.
Pusat kendali dari seluruh sistem canggih ini berada pada langkah besar pengelola untuk Renovasi Lab Pemantauan Kualitas. Laboratorium yang dulunya hanya berfungsi sebagai ruang penyimpanan alat tes, kini diubah menjadi pusat data digital yang dilengkapi dengan perangkat analisis air tingkat lanjut. Renovasi ini mencakup pemasangan perangkat lunak pemantauan jarak jauh yang memungkinkan petugas melihat kondisi air dari perangkat seluler mereka. Selain itu, laboratorium ini kini memiliki standar sterilitas yang lebih baik untuk melakukan pengujian mikrobiologi secara rutin, guna memastikan air bebas dari bakteri patogen yang sering kali lolos dari pengamatan kasat mata.
Keberadaan sistem otomatis ini memberikan dampak yang sangat positif bagi para atlet yang berlatih setiap hari. Suasana latihan menjadi lebih kondusif karena air tidak lagi berbau kaporit yang menyengat atau menyebabkan iritasi mata. Secara jangka panjang, keseimbangan pH yang stabil juga melindungi pipa-pipa besi dan mesin pompa dari korosi, yang pada akhirnya akan menekan biaya pemeliharaan infrastruktur secara signifikan. Langkah ini membuktikan bahwa Bandung tetap menjadi pionir dalam penerapan teknologi olahraga di Indonesia, dengan mengutamakan sains sebagai basis pengelolaan fasilitas publik.
